Kuburan


Oleh: Kristina Kurniati

Di kuburan
Telah menunggu seorang pria yang meninggal sebelum ia menyampaikan perasaannya kepada wanita yang dicintainya
Ia duduk sendiri di atas makamnya sambil membaca namanya di batu nisan
Ia berpikir
Mungkin itu bukan namanya
Atau mungkin ia telah hilang ingatan

Seorang perempuan berambut keriting bersama seorang pemuda manis
Menemuinya di kuburnya
Membawa sabit, parang, dan sebuah ember berisi air dan kain lap
Dengan ramah mereka memberi salam namun tidak menatap matanya
Ia ingin memeluk mereka
Segala pertanyaannya menuai jawaban

Diambilnya sebuah buku catatan
Menulis setiap kata yang keluar dari perempuan berambut keriting itu yang memimpin doa di siang yang terik itu
Tidak lama
Ia segera pergi dengan motor tuanya
Membawa secarik kertas yang dilipatnya dengan sangat rapi

Ia pergi dan entah kapan akan kembali
Namun di kuburannya
Setumpuk kertas bersih nan polos tersimpan rapi disertai pesan, “pena-nya adalah doa-doamu. Aku mengerti kenapa aku harus pergi secepat ini”

Iklan

Di Masa Lalu


Oleh: Kristina Kurniati

Ternyata
Kita sudah lahir jauh di masa lalu
Kita telah ada di gua-gua purba
Pada percikan api pertama sesaat sebelum matahari terbenam
Di dahan dan ranting pohon sebelum batang-batangnya di tebang
Di tembikar dan periuk yang menyimpan harapan

Kita telah ada di lensa mata tajam yang mengintip masa depan
Mata bening yang menatap langit dan menghitung musim
Air yang mengalir menyimpan denyut nadi kita

Kita adalah masa depan masa lalu
Masa depan para nenek moyang kita
Meski kadang
Kita menjadi masalah masa kini
Dan entah masa depan

Adakah engkau merasakan semangat para pahlawan di dadamu?
Bukankah rambut dan kulitmu menyimpan sejarah silsilahmu?

Betapa di masa lalu
Kita telah menjadi mimpi-mimpi
Dirapalkan dalam doa tanpa jeda

Masa Depan di Meja Belajar


Masa depan sudah menunggu
Berteman secangkir kopi atau segelas air putih
Mereka membiarkanmu memilih
Karena kenyamanan tercipta dari pilihanmu sendiri

Semestinya
Kita bersandar pada pengalaman yang menyusup di jumbai angin malam
Terus melambai kepada kita yang lebih banyak bercerita daripada menelaah logika
Lebih banyak tertawa daripada merangkai deret-deret fungsi bahasa

Waktu telah insomnia dan hilang ingatan
Tiba-tiba saja
Meja sudah penuh dengan piring, santap malam, dan kehangatan
Malam menyediakan semuanya begitu cepat
Mengingat kita yang melangkah mencapai sukses
Dengan segala proses yang tak lekas

Kalau buku catatan sudah penuh
Mari kita menulis pada aroma tubuh malam
Barangkali
Setiap pemikiran dan pelajaran
Akan berganti diceritakan malam kepada malam berikutnya
Kita tidak akan lupa atau terlalu terlelap

Restu


Oleh: Kristina Kurniati

Di bawah kolong langit yang berubah-ubah
Aku mencarimu hingga pada pori-pori tanah
Mengekalkan bahagia yang ditulis di dinding cakrawala
Ditulis pada malam yang bersimbah harapan

Untuk ke sekian kalinya
Aku mencarimu pada raut wajah ibu
Pada kelelahan yang bersembunyi di garis-garis wajahnya
Mencintai musim apa saja
Berpasrah pada langit yang menyimpan detak-detak waktu

Adakah yang lebih mulia daripadamu
Saat menimba ilmu
Saat bepergian jauh
Saat mencari sesuap nasi
Saat hendak meminang kekasih
Saat akan menerima pinangan

Adakah yang lebih bahagia dari mendapatkan belas kasih dan kerelaanmu meski di persimpangan jalan hanya ada jalan buntu?

Aku mencarimu ke luka-luka terdalam Ayah
Di palung jiwa Ibu
Di rahim semesta
Di tali silsilah dan sejarah
Mencarimu untuk segenggam percaya yang
Aku peroleh ketika aku membuka kitab-kitab tua

Saku


Oleh: Kristina Kurniati

Aku sudah menumpahkan semua perasaanku
Di saku bajumu yang
Berwarna merah itu
Sudah ku ceritakan semuanya
Tentang rindu, tentang suara yang terbata-bata, dan tentang pesan yang dengan sengaja kubalas lama

Dia berbicara tentang api cemburu yang
Hampir membakarnya hangus
Saat engkau mengetahui entah dari siapa
Seorang mantan telah menginjak beranda rumahku
Aku tertawa

Saku bajumu
Telah mengetahui banyak
Lebih banyak dari yang dapat kuceritakan padamu

Kita Terlelap


Oleh: Kristina Kurniati

Kita terlelap oleh suara rumput-rumput hijau
Membuka rahasia malam kepada angan yang tidak mengenal kesabaran

Kita terlelap oleh warna warni bunga di taman
Yang tidak mengenal dirinya sendiri
Terlalu percaya pada kata-kata mata yang berlalu memandangnya tidak lama

Kita terlelap oleh tumpukan kertas-kertas bergambar pahlawan
Mendewa dewikannya melebihi harga diri dan telah menghapus banyak kepercayaan
Rasa terima kasih kita ukur dalam digit-digit
Seolah lupa pada kebaikan di musim-musim nestapa

Payung


Oleh: Kristina Kurniati

Saat mencuci pakaian
Sebuah payung mengeluh kepada langit
“kenapa engkau tidak pernah menurunkan hujan ke bumi? Aku tidak pernah dibutuhkan lagi”

Langit tidak banyak berbicara. Ia sedang menghitung helaian baju yang dijemur seorang kakek tua di tali jemuran.
“Tidak boleh ada angin yang lewat. Tidak boleh sehelai baju pun jatuh. Tidak bisa sepotong celana masih disusupi sebutir air”

Payung itu bercerita kepada air di selokan. Meminta sepucuk surat kuasa untuk dilayangkan di pengadilan.

“Akankah segala Maha mendengar tuntutan dari keegoisanmu yang tidak ingin beristirahat?”, sebuah batu yang ditumbuhi lumut berceloteh.

“Musim sedang kacau. Pemilu akan segera diselenggarakan. Janganlah suara hujan meredam kedukaan di hati orang-orang di desa”, entah siapa yang berbicara

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai
%d blogger menyukai ini: