Visi dan Perasaan


Seorang yang sukses adalah seorang yang memiliki jiwa pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang bisa membedakan antara perasaan, penilaian, dan evaluasi dalam dirinya dengan visi, komitmen, dan janji-janji. Seorang pemimpin adalah orang yang dapat membedakan antara perasaan dan visi yang harus dijalani. Saya berikan contoh dalam kasus General Electric, sebuah perusahaan besar dunia, ketika Jack Wells CEO generasi kedelapan dan termudah dalam sejarah pemimpin General Electric, membangun General Electric yang saat itu merupakan perusahan yang memang sudah besar, tetapi lamban dalam pertumbuhan.

Ia mulai berpikir bahwa diperlukan sebuah revolusi. Tahun-tahun pertama saat Wells menjadi pucuk pimpinan merupakan pertempuran yang tiada henti. Revolusi yang dicanangkannya berarti mengibarkan bendera perang terhadap cara kerja lama di General Electric dan menata ulang perusahan itu dari pucuk hingga akar. Pada dasawarsa pertama kepemimpinannya, Wells memperbaiki, menutup atau melego ratusan bisnis. Ia menghapus lapis-lapis managemen dan mengubah gaya birokratis perusahan tersebut. Dapat dibayangkan betapa sulitnya dasawarsa pertama kepemimpinan Jack Wells untuk mewujudkan General Electric menjadi salah satu perusahan yang paling kompetitif di dunia. Tidak mudah mengubah sesuatu yang sudah dianggap umum dan baik di perusahan tersebut. Tidak mudah mengambil sikap tentang arus birokrasi lama yang begitu mengagungkan jabatan.

Wells menanamkan sebuah kultur baru dalam birokrasi bahwa seseorang pepmimpin harus mendengarkan bawahannya. Dengan mendengarkan bawahnnya, ia bisa mendapatkan masukan, ide-ide terbaik dan original. Setiap lapisan dalam General Electric di tuntut untuk berani menyuarakan ide-ide terbaiknya dalam setiap pertemuan. Setiap manager harus mendengarkanya. Hal itu membuat perubahan yang luar biasa dalam General Electric pada dasarwarsa tersebut. Dasawarsa selanjutnya, ia membuat gebrakan yang juga tidak populer di mata karyawan, yaitu melakukan PHK besar-besaran. Hal itu Ia lakukan untuk mendapatkan karyawan yang memiliki visi yang sama. Ia merekrut karyawan yang baru dan mengganti yang lama.

Dengan melakukan hal itu, Wells bukan sekedar CEO perusahaan, melainkan seorang pemimpin yang berani. Ia bertindak berdasarkan visi, keputusan yang tepat dan mengesampingkan perasaan-perasaan yang tidak enak karena semua yang dilakukannya itu sebenarnya untuk kebaikan perusahaan itu sendiri. Hingga hari ini General Electric adalah sebuah perusahaan besar dan ternama dengan keuangan yang sangat kuat. Tanpa seorang Jack Wells yan gmenaruh fondasi yang kuat, belum tentu General Electric akan mendapatkan keberhasilan yang seperti itu. Seorang pemimpin yang besar adalah orang yang berani bertindak, bisa memisahkan perasaan dan visi.

Sebutir Debu


Oleh: SRNC

Gegap gempita malam,
Kali ini diam.

Katanya dalam diam;
Aku tak bicara
Aku telah berikan mulutku
Pada tetesan air mata
Ia berbicara banyak
Tentang dosa secepuk segan

Sementara aku,
Aku tetap diam dalam diam.

Karena bukan sempurna
Hanyalah sebutir debu
Pada kaki indahMu

Memahami Rencana Allah


Oleh: SRNC

Satu hal yang sangat dirindukan oleh sebuah keluarga yang baru adalah mempunyai bayi yang lucu, imut, cantik atau ganteng. Demikianpun yang terjadi pada sepasang kekasih di Melbourne, Australia. Setelah beberapa lama mereka menunggu kelahiran anak pertama mereka, akhirnya pada 4 Desember 1982 yang lalu bayi pertama merekapun lahir ke dunia. Namun, yang terjadi, suasana pada kelahiran bayi mereka tampak berbeda. Tidak ada tawa, tidak ada senyum, tidak ada ucapan selamat. Tidak seperti kelahiran bayi pada umumnya. Yang ada hanyalah tangis dari para bidan, perawat, dokter terlebih lagi mereka sebagai orang tua. Hal itu disebabkan karena bayi mereka terlahir phocamelia. Kondisi fisik pada tangan dan kaki yang tidak sempurna. Bayi tersebut tidak memiliki lengan dan tungkai.

Betapa hebatnya kesedihan mereka hingga segera berusaha untuk menyingkirkan bayi tersebut. Bahkan, bukannya merayakan kelahiran, keluarga beserta tetangga malah berduka. “Jika Tuhan adalah Tuhan yang Mahakasih,” mereka bertanya-tanya, “mengapa Dia membiarkan semua ini terjadi?”

Sebagai orang tua, mereka mengalami pergumulan batin yang luar biasa. Tidak terima hal itu harus terjadi atas diri mereka. Butuh beberapa saat bagi mereka untuk menerima keadaan itu. Hingga pada suatu waktu mereka teringat pada sebuah kisah dalam Alkitab tentang seseorang yang buta sejak kelahirannya. Dimana murid-murid Yesus bertanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya.” Tetapi jawab Yesus, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”

Mengingat kisah itu, Ayah dan Ibu bayi itu menangis hebat sambil berkata mereka menerima rencana Tuhan atas diri mereka dan bahwa suatu hari nanti Tuhan akan mengungkapkannya. Mereka terus memupuk dan menjaga harapan itu hingga dari waktu ke waktu anak itu tumbuh. Walau begitu, hari-hari tidak mereka lewati dengan mulus, selalu saja ada dinamika yang harus mereka lalui. Bayi itu kemudian tumbuh menjadi balita, berjalan, bermain, makan dan minum dengan caranya sendiri yang berbeda dengan kebanyakan bayi yang terlahir secara sempurna. Walau begitu, ia belum terlalu banyak mengerti tentang dirinya, tentang perbedaan yang ia miliki, tentang kehidupan yang ia alami.

Memasuki masa anak-anak dan remaja, ia mulai memasuki babak kehidupan yang baru. Dimana kehidupan itu tumbuh tidak terlepas dari lingkungan sosial. Di masa-masa itu, ia masuk dalam pergaulan teman-teman seusianya, ia bebas memilih siapapun menjadi temannya. Ia bisa bermain, bercanda, melakukan berbagai aktivitas bersama. Namun disisi lain, ia mulai mengenal kepahitan. Ia semakin menyadari tentang keterbatasan dirinya entah itu datang dari cemoohan, ejekan dari teman-temannya maupun iri yang mulai tumbuh ketika teman sebayanya dapat melakukan aktivitas yang tak bisa ia lakukan. Ia mulai meratapi keterbatasannya; mengapa harus terlahir tanpa lengan dan tungkai?, mengurung diri dan berusaha untuk menyembunyikan diri dari dunia.

Hari demi hari ia bergumul melawan dirinya sendiri. Hingga pada suatu waktu ia mengalah dan mulai berpikir bahwa ia harus mengubah cara berpikirnya dan berusaha memahami rencana Allah atas dirinya. Ia adalah manusia yang unik, ia diciptakan istimewa, tidak seperti manusia lainnya. Ia mulai mencintai dirinya dengan sempurna dalam ketidaksemupurnaannya itu. Ia mulai menghidupkan semangat dalam dirinya dengan menerima diri apa adanya. Sambil berharap bahwa Tuhan menciptakannya bukan tanpa tujuan. Hari-hari ia menjaga semangat itu. Membaca Kitab Suci, berada dalam komunitas yang membuatnya bertumbuh, menulis kisah perjalanan hidupnya, menceritakannya kepada satu orang, dua orang hingga menjadi pembicara dihadapan banyak orang.

Kini, dengan tubuh yang tanpa lengan ia dikenal sebagai penulis dan dengan tubuh yang tanpa tungkai ia menjadi motivator yang dapat menginspirasi dan mengubah kehidupan banyak orang dari kisah perjalanan hidupnya. Membuat banyak orang menerima diri sendiri apa adanya. Dan, memahami rencana Allah membuatnya banyak pekerjaan Allah yang telah dinyatakan melalui dia.

Memberi dan Bahagia


Untuk sukses, seseorang harus memiliki citra diri yang baik. Citra diri yang baik tidak turun dari langit, tetapi harus dibangun secara sadar. Bagaimana membangun citra diri yang baik? Lakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain tanpa mengharapkan bayaran atau imbalan.

Dr. Carl Jung, seorang psikiater dari Swiss, mengatakan, “Kurang lebih sepertiga pasien saya tidak menderita penyakit saraf secara klinis, tetapi penyakit saraf yang disebabkan oleh hidup yang hampa dan tidak berguna.”

Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang sebenarnya bisa dilakukan agar hidup menjadi lebih berguna, yaitu dengan berbuat baik terhadap orang lain. Anda bisa mengunjungi orang sakit di rumah sakit, memberikan kue kepada orang cacat, menjagakan bayi seorang ibu muda yang sedang keluar rumah, pokoknya apa saja yang bisa Anda lakukan untuk orang lain meskipun orang tersebut tidak bisa membalas serta membayar Anda. Hal itu akan memberikan nilai hidup dan citra diri yang sangat kuat kepada Anda.

Anda seorang yang stres berat karena mengalami kegagalan. Perusahannya bangkrut. Ia terjerumus dalam penggunaan narkoba. Keluarganya berantakan. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk bunuh diri. Ia berjalan menuju jembatan yang berada di atas sebuah sungai berarus deras. Tempat itu sangat tepat untuk bunuh diri. Ketika ia sedang menghadap sungai dan bersiap-siap melompat, tiba-tiba seorang pengemis melintas dan melihatnya berdiri dalam kegelapan.

“Tolong, Pak. Beri saya lima ratus rupiah untuk membeli makanan”, kata si pengemis.

Orang tersebut tersenyum dalam kegelapan. Baginya lima ratus rupiah adalah jumlah yang tidak berarti, tetapi sangat berarti bagi pengemis yang kelaparan tadi.

Orang yang akan bunuh diri tersebut berkata, “Saya punya lebih daei itu” sambil mengambil dompetnya. “Ini, ambillah semua yang ada dalam dompet ini,” kata pria yang akan bunuh diri sambil memberikan dompetnya kepada si pengemis.

Pengemis tersebut kebingungan, “Loh, Pak. Mengapa semua diberikan?”

“Tidak apa-apa. Saya tidak membutuhkan uang itu di tempat yang akan saya tuju,” demikian kata pria tersebut sambil menunjuk ke arah sungai.

Pengemis tersebut mengambil dompet si pria lalu ragu sejenak. Kemudian pengemis tersebut berkata, “Tidak, Pak! Saya memang tidak punya uang, tetapi saya bukan seorang pengecut. Saya juga tidak akan mengambil uang dari seorang pengecut. Bawalah uanh ini ke dalam sungai.”

Pengemis tersebut mengembalikan dompet si pria. Meskipun pria itu mendesak si pengemis untuk menerima semua uangnya, pengemis itu tetap tidak mau, malah pergi meninggalkan si pria.

Pria yang ingin bunuh diri tersebut mengambil napas dalam-dalam. Tiba-tiba ia sangat ingin si pengemis menerima uang tersebut, tetapi bukan karena ia akan bunuh diri. Ia ingin merasa berguna dengan cara menolong pengemis yang kelaparan tadi. Namun sayang, pengemis tersebut sudah berlalu.

Satu pikiran terlintas dalam benaknya, “Saya tidak pernah mencoba hal ini sebelumnya. Mengapa saya tidak pernah melakukan hal ini, memberi dan menjadi bahagia?”

Tiba-tiba si pria yang hendak bunuh diri tersebut tersenyum ceria. Ia tidak jadi bunuh diri. Ia ingin hidupnya berguna bagi orang lain. Ia ingin memberi dan bahagia. Ia memandang sungai itu untuk terakhir kalinya, lalu kembali ke rumahnya dengan konsep hidup yang baru. “Mengapa tidak mencoba memberi dan bahagia?”

Memberi dan bahagia. Dengan prinsip ini orang akan berada dalam jalur sukses. Dahsyat!

Aku dan Pagi: pada tapal batas ilusi


Oleh: SRNC

Mentari kian menghilang dari kejauhan tatapan, terbenam begitu rupa, hingga petang benar-benar menjelma sepenuhnya menjadi malam. Aku, masih enggan membuang tatapan dari layar handphone yang aku genggam pada tangan kananku. Ada satu potret jelita disana yang aku kagumi dalam diam, dalam doa. Dari petang hingga malam aku mencoba mengurai serpihan-serpihan kenangan yang tumpah dari wajahnya −beberapa senyuman− yang aku curi dari sudut yang tak ia kira.
Ia memiliki pesona menggetarkan hanya dengan sekali senyuman dan sekali tatapan. Seperti waktu itu, tatkala ia mendapatiku yang secara sembunyi-sembunyi memperhatikannya dengan teliti. Lantas, akupun tertunduk malu. Namun, senyum dan tatapan itu kerap menghiasi hari-hariku, bahkan hatiku.
Aku tak memiliki lebih banyak kata untuk menjelaskan bagaimana indahnya ia, jika ada kata yang melebihi kata indah, maka diatas segala keindahan itu aku menyebutnya Pagi. Pagi bukanlah sebuah nama. Pagi adalah dirinya dan segala keindahannya.
Pagi adalah ide abstrak yang aku bangun di dalam kepala untuk menyatakan dirinya, yang terbit disaat cinta terbenam begitu lamanya.
*
Bukannya tanpa usaha, aku telah menunjukan betapa aku peduli. Walau begitu, begitu lama rasa itu harus bersembunyi. Hingga pada suatu malam yang rimbun, gemuruh rasa itu membuncah pada pangkal tanya.
“Sudahkah Engkau memiliki kekasih?”, tanyaku dalam gelora.
“Belum”, jawabnya singkat.
Aku membawa jawaban itu menuju malam yang kian larut bahkan hingga di ujung pagi yang hampir terbit. Ada harap yang membubung untuk tidak terus menggumam rasa, tetapi cinta yang harus dieja. Asa itu kian membara untuk mengatakan “aku jatuh cinta”.
**
Dalam hidupku, saat yang paling indah adalah pagi, karena pagi adalah dia. Dan senja, karena senja adalah saat kami mulai menyemai rasa. Kemudian cinta itu tumbuh, gejolak yang tidak pernah usai.
Dalam dia, ada warna pada setiap rupa semesta, ada makna pada setiap cerita, ada bahagia pada setiap tawa, ada harap pada setiap rencana. Begitulah cinta itu bekerja. Di dalamnya tidak mempunyai ruang resah dan gelisah. Hari-hari diiringi senyum, pada pagi, pada siang, senja dan pada malam yang kembali tiba.
Ia menghidupkan api semangat yang lama padam, tidak hanya sekali tetapi berulang-ulang kali di setiap jumpa, atau suara yang hanya dikabarkan lewat udara.
Ia seperti puncak gunung yang biasa aku daki, tempat dimana syukur terhebatku terucap. Tempat di mana semua pencarian berakhir.
Lalu?
***
Tidak begitu lama. Pada suatu malam yang dingin di Kota Debu, demikian kota itu dijuluki. Semua yang berdetak, sunyi. Dan semua yang berputar, henti. Aku tenggelam begitu dalamnya ke dalam perih. Apa yang aku dengar, yang aku alami, yang aku duga ternyata terbukti. Ia telah memiliki yang lain. Dan aku adalah tempat singgah ketika jeda yang ia miliki.
Hanya orang yang tak memiliki perasaan jika tak kecewa. Dan aku memilikinya. Kekecewaan itupun datang dan menjadi yang terbesar dalam hidupku. Seperti kata seorang sahabat, “terlalu dalam kita mencinta, maka terlalu hebat luka ketika kecewa”.
****
Bagaimanapun perih itu tumbuh, rasa itu tidak dapat hilang lenyap. Ia diwujudkan dalam bentuk yang lain. Dalam diam dan dalam doa. Dan aku, biarlah seperti satu bintang diatas sana, ia tampak begitu kelihatan menghiasi langit malam, namun ketika mentari itu kembali datang –ia tetap ada− ia tak dapat dilihat oleh mata, tetapi mungkin oleh hatimu. Jangan dipaksa. Karena Cinta tak pernah memaksa. Biarlah rasa itu seperti kata-kata yang sejak awal tetap ada di pangkal lidah, yang seharusnya tak pernah menjadi suara. Dan, biarlah Pagi tinggal menetap pada tapal batas ilusi, selamanya.
*****
Malampun makin larut, sudah sekian banyak potret yang telah aku lihat. Aku sudahi menatap layar handphone ini. Aku putuskan untuk menyembunyikan luka dan kekaguman itu. Sambil berharap bahwa semua yang terbaik datang padanya. Karena itulah yang dimaksud dengan cinta. Berkorban hingga tergores luka.

Saku (2)


Oleh: Kristina Kurniati

Aku melipat rinduku lalu menyelipkannya di saku bajumu
Siapa tahu
Di siang bolong saat matahari dengan ganas menyerang pori-pori kulitmu
Hingga engkau meneteskan peluh
Helaian rinduku bisa meneduhkanmu
Menjelma sebuah sapu tangan mengeringkan peluhmu

Kuburan


Oleh: Kristina Kurniati

Di kuburan
Telah menunggu seorang pria yang meninggal sebelum ia menyampaikan perasaannya kepada wanita yang dicintainya
Ia duduk sendiri di atas makamnya sambil membaca namanya di batu nisan
Ia berpikir
Mungkin itu bukan namanya
Atau mungkin ia telah hilang ingatan

Seorang perempuan berambut keriting bersama seorang pemuda manis
Menemuinya di kuburnya
Membawa sabit, parang, dan sebuah ember berisi air dan kain lap
Dengan ramah mereka memberi salam namun tidak menatap matanya
Ia ingin memeluk mereka
Segala pertanyaannya menuai jawaban

Diambilnya sebuah buku catatan
Menulis setiap kata yang keluar dari perempuan berambut keriting itu yang memimpin doa di siang yang terik itu
Tidak lama
Ia segera pergi dengan motor tuanya
Membawa secarik kertas yang dilipatnya dengan sangat rapi

Ia pergi dan entah kapan akan kembali
Namun di kuburannya
Setumpuk kertas bersih nan polos tersimpan rapi disertai pesan, “pena-nya adalah doa-doamu. Aku mengerti kenapa aku harus pergi secepat ini”

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: